Ketika anak saya berumur satu tahun saya pindah rumah. Kami sering berganti-ganti pembantu. Paling lama mereka hanya bertahan satu tahun. Yang pertama dengan seorang gadis bernama Atun. Usianya saat itu 23 tahun. Dia kami peroleh di sebuah penampungan PRT, semacam sebuah yayasan. Saat itu istri saya sedang memilih-milih sejumlah PRT yang ditawarkan pengelola. Lalu saya lihat istri saya berbicara dengan gadis itu. Beberapa saat kemudian istri saya menghampiri saya. “Gimana kalau dia saja?” tanyanya. Saya bingung. Kalau melihat bagaimana gadis itu bersikap terhadap anak saya, rasanya dialah yang kami cari. Percayalah. Dia terlampau cantik sebagai PRT. Kulitnya coklat bersih. Tinggi sedang, ramah, periang. Dan, waduh. Teteknya sangat besar. Akhirnya gadis bernama Atun itu kami ambil. Saya benar-benar tergoda oleh semua yang ada dalam diri Dayah. Kecantikannya, kebersihan kulitnya, teteknya, keramahannya.
Dua
bulan sejak dia ikut kami, saya sudah mulai punya pikiran kotor. Saya
mulai mencari cara untuk bisa meniduri Atun. Maukah dia? Serangan
terhadap Atun saya lakukan pada suatu malam ketika istri saya keluar
kota. Birahi saya muncul sejak siang. Istri saya berpesan kepada Atun
supaya kalau malam Nisa tidur dengan dia. Soalnya istri saya paham betul
tabiat saya kalau tidur malam. Sejak sore Nisa bersama saya,
bercengkerama di depan TV, lalu tertidur sekitar jam 19.00. Saya tiduran
di sebelahnya sambil nonton TV. Tapi sebenarnya pikiran saya sedang
kacau oleh birahi dan keinginan untuk menikmati tubuh Atun. Tetek gadis
itu benar-benar sangat menggoda saya. Seperti apa rupanya tetek besar
seorang pembokat? Saya ingin meremas-remasnya, ingin mengulum dan
menjilatinya. Saya tiduran dengan berbalut sarung, tanpa baju. Hanya CD
saja. Jam 20.00 Atun meminta Nisa untuk dibawa ke kamarnya. Saya
pura-pura menolaknya. “Sudah biar tidur sama saya saja,” kata saya. Saya
diam saja. Gadis itu mengenakan kaos dengan rok span di atas lutut. Dia
duduk melipat lutut di sebelah Nisa.
Hmm.
Sepasang pahanya yang putih tersembul dari roknya. “Sudah kamu tiduran
di situ dulu nanti kalau sudah waktunya aku bangunin terus kamu bawa
Nisa ke kamarmu,” kata saya. Perangkap saya pasang. Dia tampak ragu dan
bingung. “Sana ambil bantal kamu!” perintah saya. Dia beranjak. Sebentar
kemudian datang lagi dengan membawa bantal dan selimut. Dia rebahkan
tubuhnya di sisi Nisa. Dia balut tubuhnya dengan selimut. Tenggorokan
saya seperti tersekat. Kering. Haus rasanya. Saya tidur dengan Atun
hanya dibatasi si kecil Nisa. Atun mencoba memejamkan mata. Sesekali
melirik ke arah TV. Lalu saya tidur menghadap ke arahnya. Memandanginya.
Rupanya dia tahu saya memandangi. Sekilas dia memandang saya, lalu
memejamkan mata. Saya memandangi terus.
Semakin
kagum, dan semakin panas dingin tubuh saya. Penis saya sudah tegang
sejak tadi. Saya bingung bagaimana mengawali. Maukah Atun menerima
saya? Pikiran saya mulai kacau. Antara berani dan tidak. Saya mencoba
tersenyum kepadanya ketika dia melirik saya. Dia tak bereaksi. Tampaknya
dia tahu apa yang berkecamuk dalam benak saya. Saya memanggil namanya
pelan. Dia membuka matanya. “Kamu cantik sekali.” Dia terbelalak dan
merapatkan selimutnya. Saya terus memandanginya. Lalu saya lihat dia
tersenyum tipis. “Kamu cantik sekali,” kata saya lagi. Wajahnya merah.
Timbul keberanian saya. Saya mencoba meraih jemarinya yang tersembul
dari selimut. Sesaat kemudian saya coba raih helai-helai rambutnya. Saya
elus kepalanya. Dia diam. Saya makin berani.
Nisa
bergerak-erak seperti mau bangun. Atun mencoba menengkan dengan
menepuk-nepuk punggungnya. Kesempatan itu saya gunakan untuk meraih
tangannya. Saya gengam. Dia diam, hanya matanya yang lurus ke arah mata
saya. Saya cium tangan itu. Penis saya makin tegang. Saya ciumi punggung
tangan itu, lalu telapak tangannya. Tak ada reaksi. Saya makin berani.
Secepat kilat saya bergeser tempat. Kali ini di belakanganya. “Bapak
jangan gitu, ahh,” dia menepis tangan saya yang mencoba memeluknya. Saya
tersenyum dan kembali memeluknya. Kali ini dia diam. Saya merapatkan
badan kepadanya. Saya gesek-gesekkan penis saya ke tubuhnya. Dia
menggelinjang sebentar, dan berusaha menjauh, tapi tubuhnya terantuk
tubuh kecil Nisa. Saya makin beringas. Saya buka selimutnya.
Saya
usap kakinya. Ke atas, di paha. Dia mendesis dan berusaha menghindar.
“Saya tidur di kamar saja ahh.” Dia mencoba bangkit tapi saya
menahannya. “Jangan.” …“Bapak nakal sih.” Saya menghentikan aksi. Sesaat
kemudian hanya tangan saya yang saya taruh di pingangnya. Dia diam
saja. Lalu saya kembali memeluknya. Ahh tepatnya mendekap dia. Saya
gesek-gesek pelan tangan saya di bagian perutnya. Dia tak bereaksi. Saya
terus berusaha memberi rangsangan dengan menyusupkan jari saya ke kulit
perutnya. Tampaknya berhasil. Dia mendesis. Tak ada perlawanan. Tangan
saya merayap pelan ke atas sampai terentuh dinding yang sangat tebal.
Tetek yang luar biasa besarnya. Benar-benar baru kali ini saya liat
tetek sebesar ini. Saya sentuh pelan-pelan.
Saya
takut dia menolaknya. Tapi tidak ada reaksi. Baru ketika saya
pelan-pelan meremas, tubuhnya terlihat bergerak-gerak. Dia melenguh.
Saya makin kalap. Remasan makin keras, dan menyelusuplah tangan saya ke
dalam BH-nya. Tersentuh daging kenyal. Saya raba, saya remas. Atun
menggelinjang. “Hh..” Tangannya mencengkram tangan saya. Saya mulai
menaiki tubuhnya. Sarung saya lepas. Saya hanya bercelana dalam. Dayah
memejamkan mata. Saya cium bibirnya dengan tangan saya tetap
meremas-remas payudara besarnya. Tanpa saya duga, dia membalas ciuman
saya. Bakan menghisap lidah saya dengan rakus. Bibir saya bergerak turun
ke leher. Selimut telah lepas dari tubuhnya. Saya singkap kaosnya, dan
akhirnya, saya lihat kutang itu terlalu kecil untuk teteknya yang super
besar. Hanya dengan sekali geser. Putingnya telah tersembul. Saya cium
puting itu. Saya hisap, dan saya gelitik. Dia meronta-ronta. Tangannya
memeluk saya erat-erat. Lalu saya cium lagi bibirnya. Tangan saya
bergerak ke bawah, ke celah CD-nya, mengelus-elus semak-semak lembut,
dan menggelitik sebuah celah yang telah basah. Atun mencengkeram kepala
saya, lalu menariknya. Dia mencium bibir saya. Melumatnya.
Lidah
saya disedot dengan hebatnya. Saya permainkan tangan di bawah,
menyusuri sepasang bibir vagina. Kadang memutar-mutar di ujung bibir.
Tangan Atun telah mengocok penis saya. Mengocok dan meremas-remas
dengan sangat kuatnya. Saya buka CD Atun, hingga pangkal kakinya, lalu
dia menendang sendiri CD itu, melayang ke dekat TV. Dia juga menarik CD
saya. “Kamu masih perawan Atun?” taya saya. Dia mengangguk sambil terus
mengocok penis saya. Kocokan yang kasar. “Kamu mau saya masukkan ini
saya?” saya memegang tangannya yang sedang mengocok penis. Dia
mengangguk. Saya membalikkan tubuh saya, mengangkat kedua pahanya yang
padat. Memeknya disinari cahaya TV.
Saya
terus menjilatinya. Atun mengerang-erang. Saya coba menaruh penis saya
di depan mulutnya. Tapi dia hanya meremas dan mengocoknya. Ketika lidah
saya makin beringas menjilati memeknya, barulah dia memasukkan penis
saya di mulutnya. Saya sibakkan bibir memeknya. Saya jilat-jilat isinya,
jari tengah saya mencoba menusuk pelan. Atun mengangkat pantatnya.
Mulutnya menghisap-hisap penis saya. Terdengar bunyi sangat keras.
Ketika saya merasa hendak ejakulasi, saya tarik penis saya. Saya ingin
sperma saya jatuh di luar mulutnya. Serentak dengan itu saya mengulum
kelentit. Atun menarik pinggul saya dan menghisap kuat penis saya. Srtt
srrtt Sperma saya pu terpancar. Tapi kali ini saya justru menekannya.
Saya tidak ingin penis saya lepas dari mulutnya. Seluruh mani saya telah
keluar. Sebagian telah masuk ke dalam kerongkongan Atun. “Sekarang Atun tiduran, aku masukin ya senjataku ke tempik Atun” kata Saya.
Tanpa perlu menjawab, Atun merebahkan tubuhnya memasang posisi,
kemudian Saya mulai menusukkan senjata saya kedalam lubang kenikmatan Atun.
“Auuu…
pelan-pelan pakkk… masukinnya…” Atun merasakan moncong senjata Saya
memasuki lubang tempiknya. Setelah di rasa cukup masuk dan menyesuaikan
di dalam lobang kenikmatan Atun, mulailah Saya memaju-mundurkan
senjatanya. “Ssshhh… enaaak pakkk… terusss… yang dalammm …”erang Atun
keenakan. “Accchhh…pakkk … aku moo keluuaarrrr… aahhh…” Atun melenguh
panjang, pertanda telah sampai orgasmenya. Dijepitnya pinggang Saya…
dipeluknya dada Saya, seolah mau melumat tubuh Saya, Saya sedikit
meringis merasakan jepitan kaki Dayah dan pelukan tangan Atun di
tubuhnya, tetapi Saya mengerti akan kenikmatan Atun, maka dibiarkannya
wanita itu menjepit tubuhnya. Setelah beberapa saat Saya memberi waktu
untuk Atun mengembalikan nafas liarnya, saya berinisiatif untuk merubah
gaya, saya suruh Atun untuk nungging membelakangiku, Saya melakukan
dogy style. Inipun sensasi lain yang dirasakan Atun, baru dengan Saya
ini ia merasakan indahnya persetubuhan. Saya pun merasakan sensasi lain
dari jepitan lubang Atun, dengan posisi ini, lubang kemaluan Atun
semakin dirasakan sempit, Atun, “saya mau keluar nihhh…aaahhh…” lenguh
Saya. demikian juga Atun yang semakin liar memeluk serta menggigit
sarung saya, “aaacchh… emmmhhh… pakkk…” Kami terkapar dengan deru nafas
yang saling berlomba, Atun memeluk Saya, Saya membelai rambut Atun.
Kami saling mendekap, berpagutan, disela deru nafas kami berdua. Dia
tersenyum lalu beranjak menuju kamar mandi. Saya puas. Benar-benar puas.
Perseligkuhan dengan Atun saya ulangi beberapa kali. Banyak sekali
kesempatan terbuka. Segalanya berjalan sangat lancar. Kami melakukannya
tidak hanya ketika istri saya sering keluar kota. Tetapi juga siang hari
saat istri kerja dan saya pulang diam-diam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar